HNSI Dan Polman Babel Melaksanakan MOU Dan PKS Guna Pengembangan Sektor Perikanan

Blog116 Dilihat

Babelbersuara.com

‎Sungailiat, Bangka — Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) bersama Politeknik Manufaktur (Polman) Babel menggelar pertemuan di Desa Tutut, Sungailiat, Kabupaten Bangka, pada 23 September 2026. Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan awal yang sebelumnya dilaksanakan di lingkungan Polman Babel. 23/09/2026.



‎Agenda utama pertemuan membahas rencana Memorandum of Understanding (MOU) Dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara HNSI dan Polman Babel, khususnya dalam pengembangan pendidikan serta potensi sektor perikanan.

‎Wakil Direktur II Polman Babel, Muhammad Subhan, M.T., mengatakan bahwa kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan pembelajaran yang selama ini lebih banyak berfokus pada bidang mesin.

‎Menurutnya, melalui kolaborasi dengan HNSI, pengembangan pembelajaran dapat diperluas ke sektor perikanan, termasuk potensi pembuatan pelet/pakan ikan serta berbagai kegiatan pendukung lainnya.

‎Dalam pertemuan tersebut, Muhammad Subhan juga meminta dukungan HNSI untuk membantu menyampaikan dan mengoordinasikan persoalan aktivitas ponton di sekitar kawasan Polman. Hal itu, menurutnya, perlu menjadi perhatian agar aktivitas tersebut tidak menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa, mengganggu kegiatan belajar mengajar, maupun memperparah persoalan abrasi.

‎Menanggapi hal tersebut, Ketua HNSI, Lukman, S.Pd., menyampaikan bahwa pihaknya akan memperhatikan persoalan aktivitas tambang yang berada di sekitar kawasan Polman, termasuk apabila terdapat kegiatan di belakang kampus maupun di alur muara.

‎Lukman juga menyinggung adanya pemberitaan dan informasi yang beredar di media sosial mengenai dugaan keterlibatan oknum media dalam aktivitas tambang ilegal.

‎Ia menegaskan bahwa apabila aktivitas tambang ilegal masih ditemukan, pihaknya akan mempertimbangkan langkah pelaporan kepada Polda Kepulauan Bangka Belitung serta mendorong penanganan hingga ke pihak-pihak yang dianggap terkait.

‎“Jangan sampai ada alasan memperdalam alur, sementara kegiatan tersebut justru digunakan untuk kepentingan pribadi,” ujar Lukman dalam pertemuan tersebut.
‎Ia menambahkan, persoalan aktivitas penambangan timah di kawasan pesisir perlu mendapat perhatian bersama, terlebih dengan adanya informasi mengenai harga pembelian timah oleh kolektor rumahan yang disebut mencapai sekitar Rp300 ribu per kilogram.

‎Pertemuan HNSI dan Polman Babel tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, perikanan, serta mendorong perhatian bersama terhadap persoalan lingkungan dan aktivitas di kawasan pesisir.”

‎(ANDU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *