Nelayan Sungailiat Korban Tabrak Lari Kapal Gandeng Harapkan Ganti Rugi

Blog82 Dilihat




‎SUNGAILIAT — Seorang nelayan tradisional bernama Rahmat, warga Kampung Jalan Putus, Sungailiat, Kabupaten Bangka, menjadi korban tabrak lari kapal gandeng KM Prima Samudra Dua Balikpapan saat melaut, Rabu (21/1/2026).

‎Peristiwa tersebut terjadi ketika Rahmat melaut seorang diri menuju Karang Thailand, sekitar 15 mil dari muara Air Kantung, Sungailiat.

‎Sekitar pukul 04.00 WIB dini hari, saat sedang memancing cumi-cumi, kapal miliknya tiba-tiba ditabrak kapal gandeng KM Prima Samudra Dua balik papan hingga kapalnya terseret.



‎Akibat kejadian tersebut, Rahmat mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp150 juta, termasuk kapal dan perlengkapan melaut yang menjadi satu-satunya sumber mata pencahariannya.

‎Rahmat sempat naik ke atas kapal gandeng dan bertahan selama kurang lebih tujuh jam. Saat cuaca mulai terang, ia berusaha melambai anak buah kapal (ABK) untuk meminta pertolongan. Namun upaya tersebut tidak mendapat respons.

‎Karena tidak mendapatkan bantuan, Rahmat akhirnya nekat melompat kembali ke laut dengan berpegangan pada derigen air sebagai alat bantu apung.

‎Beruntung, Rahmat kemudian diselamatkan oleh nelayan lain yang melintas di sekitar lokasi kejadian
‎Saat ini, Rahmat tidak lagi memiliki kapal untuk melaut dan kesulitan menafkahi keluarganya.

‎Rahmat berharap Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dapat membantu mencari pihak kapal yang bertanggung jawab serta memperjuangkan ganti rugi, agar dirinya dapat kembali memiliki kapal dan melaut seperti biasa.

‎Sementara itu, Ketua HNSI Kabupaten Bangka, Lukman, S.Pd, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan ketua HNSI Kalimantan serta HNSI Pusat untuk menelusuri perusahaan pemilik kapal gandeng yang diduga menabrak nelayan tersebut.

‎“HNSI akan berupaya mencari perusahaan kapal yang bertanggung jawab dan memperjuangkan hak nelayan korban tabrak lari ” ujarnya.

‎Kasus ini diharapkan menjadi perhatian serius agar keselamatan nelayan tradisional di perairan Bangka lebih terjamin ke depannya. tutup Lukman” AD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *