Pariwisata Berbasis Komunitas: Strategi Mengangkat Identitas Lokal Bangka Belitung* Oleh: Altha Velia Nabilah dan Yuliana Anggeraeni Mahasiswi Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung

Blog59 Dilihat

Babelbersuara.com

Wisata Bangka Belitung yang dikenal dengan daerah penghasil timah ini salah satunya adalah Pantai. Beberapa daerah di Sungailiat maupun Belitung memiliki beberapa Pantai yang eksotis. Sektor pariwisata dalam beberapa tahun terakhir dinilai sebagai sektor strategis yang mampu menjadi penggerak ekonomi daerah. Maka dari itu, muncul konsep pariwisata berbasis komunitas (Community-Based Tourism/CBT) yang relevan dengan pendekatan strategis dalam manajemen pariwisata, agar dapat mengangkat lokalitas agar tidak tenggelam di arus pariwisata yang cenderung homogen.

Pariwisata berbasis komunitas tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga tentang bagaimana Masyarakat lokal menjadi pemeran utama dalam perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi kegiatan pariwisata. Selaras dengan pendekatan prinsip manajemen strategic yang menekankan keunggulan kompetitif berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya yang sulit ditiru, dalam hal ini meliputi budaya, tradisi dan kearifan lokal Masyarakat Bangka Belitung.

Dalam perspektif manajemen strategik, perlu adanya diferensiasi untuk mampu bersaing di pasar pariwisata nasional maupun internasional. Sebagai kota yang dikenal dengan keindahan pantai, namun tidak membuat pemerintah abai terhadap potensi kearifan lokal, karena banyak daerah yang memiliki keindahan alam yang serupa. Sehingga pariwisata berbasis komunitas menjadi strategi deferensiasi yang kuat karena menghadirkan pengalaman otentik yang tidak bisa ditiru secara insstan. Lewat CBT, wisatawan tidak hanya bisa menikmati keindahan alam pantai, namun juga dapat berinteraksi dengan Masyarakat lokal dengan mengikuti kegiatan sehari-hari seperti menangkap ikan menggunakan pukat, belajar anyaman, mengenal lempah kuning, terasi, hingga mengenal cerita rakyat. Interaksi seperti ini diyakini dapat menciptakan nilai tambah emosional dan budaya yang jauh mendalam dibandingkan dengan pariwisata konvensional, sehingga dapat memperkuat Bangka Belitung sebagai destinasi dengan karakter khas dan memiliki identitas.
Lokalitas budaya tidak hanya dilihat dari sombol maupun pakaian adat, namun bagaimana cara hidup, Bahasa, nilai juga pola pikir masyarakat. Pada saat masyarakat dilibatkan untuk secara aktif dalam pariwisata, secara otomatis akan juga menjaga serta melestarikan budaya yang ada. Keterlibatan ini juga akan menciptakan rasa memiliki yang kuat dengan destinasi wisata. Keberadaan Kelompok Sadar Wisata atau sering diketahui dengan Pokdarwis yang juga ikut turut mengambil Keputusan dan menentukan arah pengembangan pariwisata menjadi contoh nyata dalam CBT. Pokdarwis tidak hanya menjadi pelaksana namun juga melibatkan diri untuk turut menjaga kelestarian budaya.

Selain aspek sosial dan budaya, dimensi lingkungan juga perlu menjadi perhatian utama dalam pengambangan pariwisata berbasis komunitas. Aktivitas wisata yang tidak terkontrol dapat juga menimbulkan kerusakan pada ekosistem pesisir, pencemaran laut juga eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Maka dari itu, penerapan prinsip eco-friendly seperti pengelolaan sampah berbasis komunitas, pembatasan jumlah kunjungan di Kawasan sensitive, juga edukasi lingkungan kepada wisatawan. Masyarakat lokal juga dapat dilibatkan dalam pengawasan lingkungan sekaligus pelopor gerakan wisata hijau yang menjaga keseimbangan antara eksplorasi dan konservasi. Maka dari itu, inovasi diperlukan agar pariwisata berbasis komunitas tidak stagnan dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Inovasi juga dapat diwujudkan pada wisata bahahi edukatif, sampai dengan pengalaman hidup Bersama nelayan lokal. Hal ini memberikan pilihan wisata dan juga dapat memperpanjang durasi tinggal wisatawan dan berdampak pada peningkatan perputaran ekonomi lokal. Pendekatan ini menjadikan berwisata tidak hanya destinasi singgah, tapi juga memberikan pengalaman berkesan dan berkelanjutan.

Di sisi lain, penerapan pariwisata berbasis komunitas juga mengalami berbagai rintangan. Rendahnya kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen, pemasaran, juga pelayanan menjadi salah satu hambatan yang harus dihadapi. Ketika sumber daya menusia sudah memiliki potensi, seringkali belum dibekali dengan kompetensi yang memadai untuk mengelola pariwisata secara professional. Adanya kepentingan antara investor dengan pemangku kebijakan juga masyarakat lokal juga menjadi hambatan. Apabila tidak dikontrol dengan baik dan dengan kebijakan yang tepat, akan ada kemungkinan untuk menggeser nilai lokal dan menggantikannya dengan budaya komersial yang tidak mencerminkan identitas asli daerah.

Maka dari itu, diperlukannya Solusi strategis yang akan menjawab persoalan tersebut dengan sistematis. Meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan berkelanjutan merupakan hal utama yang harus dilakukan. Kolaborasi antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi maupun kelompok sadar wisata untuk menciptakan program pelatihan praktis yang mencakup manajemen destinasi, pelayanan wisata, omunikasi lintas budaya, serta pengelolaan keuangan sederhana. Pelatihan harus bersifat aplikatif sehingga masyarakat dapat langsung mempraktekkan ilmu yang diperoleh dalam praktif sehari-hari.

Hal lain yang harus diatur adalah regulasi yang mengatur hubungan antara investor dan masyarakat yang harus diteliti dan diperjelas. Pemerintah perlu memastikan adanya model kemitraan yang adil. Seperti kewajiban keterlibatan tenaga kerja lokal, kepemilikan usaha Bersama, serta transparansi dalam pembagian keuntungan. Hal ini dapat mencegah masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton utama dalam giat pariwisata, namun keterlibatan masyarakat lokal memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.

Kolaborasi yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media juga memungkinkan untuk terciptanya sinergi dalam perencanaan, promosi, hingga inovasi produk wisata. Penguatan dan promosi digital berbasis narasi lokal juga menjadi Langkah penting di mana masyarakat didorong menjadi storyteller yang menceritakan keunikan budaya Bangka Belitung melalui media sosial dan platform pariwisata. Cerita tentang kehidupan pesisir, cerita adat, tradisi lokal, dan kearifan masyarakat dapat menjadi daya tarik yang membedakan dari destinasi lain.

Dengan mengimplementasikan strategi tersebut, pariwisata berbasis komunitas di Bangka Belitung berpotensi memberikan dampak positif secara ekonomi dan sosial. Peningkatan pendapatan masyarakat, tumbuhnya UMKM lokal, serta tercipatanya lapangan baru menjadi indikator keberhasilan yang dapat diukur secara nyata. Di sisi lain, kebanggan terhadap identitas daerah juga semakin kuat, dengan terciptanya masyarakat yang lebih peduli dengan kelestarian budaya dan juga lingkungan.

Pariwisata berbasis komunitas diharapkan tidak hanya sekedar konsep, tetapi juga strategi pembangunan yang dapat mengangkat identitas Bangka Belitung. Hal ini juga dapat menjadi strategi jangka Panjang yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, yang didukung oleh kebijakan yang berpihak dan manajemen yang visioner, maka pariwisata tidak hanya menghadirkan keuntungan materi, tetapi juga memperkuat jati diri daerah. Dengan pengelolaan yang terarah, konsisten dan partisipatif, Bangka Belitung dapat membangun citra pariwisata yang tidak hanya indah visual, tetapi penuh akan makna. Inilah bentuk ideal pariwisata strategis yang tidak hanya menjual tempat, namun juga menceritakan identitas dan kehidupan masyarakat secara utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *